MAKALAH AGAMA BUDDHA "STUDI AGAMA-AGAMA"

 LINK DOWNLOAD FULL DISINI KATA PENGANTAR   Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah S.W.T. atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan sebaik-baiknya, meskipun masih jauh dari kata kesempurnaan. Shalawat beserta salam kami curahkan kepada Rasulullah S.A.W. Dalam menyelesaian makalah ini kami berusaha untuk melakukan yang terbaik. Tetapi kami menyadari bahwa dalam menyelesaikan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan dan penyempurnaan makalah kami yang akan datang. Dengan terselesaikannya makalah ini, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam proses pembuatan makalah ini yang telah memberikan dorongan, semangat dan masukan. Semoga apa yang kami tulis ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan masyarakat pada umumnya, serta mendapatkan ridha dari Allah S.W.T. Amin.   Magelang, 16 Maret 2021    ...

PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF NATURALISTIK

LINK DOWNLOAD FILE
DISINI

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Indonesia merupakan negara multikultural, negara yang terdiri dari banyak pulau dengan beragam suku bangsa di dalamnya. Dari setiap suku bangsa tentunya memiliki banyak sekali budaya yang berbeda-beda dari adat istiadat yang masyarakat jalankan. Kemunculan yang terdapat dari berbagai ritual kebudayaan di berbagai daerah mempunyai karakteristik tersendiri di setiap daerahnya. Hal itu disebabkan oleh adanya perbedaan geografis dan sebagian besar adala h peninggalan nenek moyang di setiap daerahnya, sehingga masyarakat menganggap bahwa budaya adalah suatu adat yang sangat bernilai dan memiliki banyak sekali arti penting dari setiap kegiatan yang dilaksanakan.

Islam dan budaya memiliki relasi yang tak terpisahkan, dalam Islam sendiri ada nilai universal dan absolut sepanjang zaman. Namun demikian, Islam sebagai dogma tidak kaku dalam mengahadapi zaman dan perubahannya. Islam selalu memunculkan dirinya dalam bentuk yang luwes, ketika menghadapi masyarakat yang dijumpainya dengan beraneka ragam budaya, adat kebiasaan atau Tradisi (Kastolani, 2016: 2).

Sebagai sebuah kenyataan sejarah, agama dan kebudayaan dapat saling mempengaruhi, agama memerlukan kebudayaan agama. Tetapi keduanya perlu dibedakan. Agama adalah sesuatu yang final, universal, abadi (parennial) dan tidak mengenal perubahan (absolute). Sedangkan kebudayaan 2 bersifat partikular, relatif, dan temporer. Agama tanpa kebudayaan memang dapat berkembang sebagai agama pribadi, tetapi tanpa kebudayaan agama sebagai kolektivitas tidak akan mendapat tempat. Islam merespon budaya lokal, adat atau Tradisi sepanjang budaya lokal, adat atau Tradisi tersebut tidak bertentangan dengan spirit nash al-Qur‟an dan Sunnah (Kastolani, 2016: 3).

Dari pengertian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa kebudayaan Islam ialah suatu budaya yang dihasilkan oleh sekelompok masyarakat yang tidak menyimpang dari ajaran agama Islam. Dalam sejarah perkembangan kebudayaan mengalami akulturasi dengan berbagai bentuk kultur yang ada. Dari setiap masyarakat tentunya memiliki kebudayaan yang bermacam-macam. Salah satu budaya yang mengalami akulturasi ialah Tradisi Sadranan.

Budaya itu sendiri diyakini sebagai hasil tingkah laku atau kreasi manusia, memerlukan bahan materi atau alat penghantar untuk menyampaikan maksud. Medium budaya itu dapat berupa bahasa, benda, warna, suara, tindakan yang merupakan simbol-simbol budaya. Budaya Jawa yang dikatakan edi penidan adi luhung, karena telah terbina selama berabad-abad lamanya.

Penggunaan simbol dalam suatu budaya merupakan media yang berasal dari nenek moyang untuk melukiskan segala macam bentuk pesan pengetahuan pada masyarakat sebagai generasi penerus. Adanya simbol yang melekat pada suatu adat ataupun kebudayaan diharapkan dapat memberi pemahaman bagi masyarakat penggunanya.

Dengan mengangkat tema tradisi Sadranan ini mampu memberi pengetahuan kepada masyarakat luas mengenai kebudayaan yang mungkin selama ini kurang diperhatikan secara khusus oleh sebagian besar masyarakat sehingga dapat menambah wawasan budaya khususnya di daerah pedesaan dan menjadikannya sebagai sarana untuk diadakannya komunikasi antar masyarakat dalam meningkatkan perkembangan budaya.

Dari uraian diatas, kami mencoba membahas masalah budaya yang bernuansa islami yang sampai sekarang oleh sebagian masyarakat di Indonesia masih menjalankannya. Seperti yang ada pada uraian dan judul diatas tadi. Berkaitan dengan budaya, masyarakat Indonesia tidak akan bisa lepas dari yang namanya budaya, karena budaya di Indonesia sudah mengakar, bahkan menjadi satu kesatuan yang sulit untuk dipisahkan. Disinilah pentingnya sebuah pemahaman yang lebih mendalam berkaitan dengan budaya dan komunikasi, sehingga kita tidak akan buru-buru dalam menghukumi jelek dalam arti tidak baik untuk dilakukan. Karena permasalahan itulah kami mencoba mengangkat judul tersebut agar kita tidak langsung menganggap suatu adat istiadat, tradisi, maupun budaya sebagai sesuatu yang tidak baik, buruk dan lain sebagainya, tanpa melalui data-data ilmiah.

Oleh karena itu kami merasa perlu untuk mengangkat penelitian mengenai upacara tradisi Sadranan sebagai salah satu upaya dalam melestarikan upacara adat ini. Mengingat semakin maraknya budaya modern yang berkembang luas serta gaya hidup masyarakat yang semakin maju, namun nyatanya tradisi Sadranan ini masih tetap dilaksanakan oleh suku Jawa secara rutin tiap tahun khususnya masyarakat Dusun Derepan Desa Munggangsari  Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Di samping itu, penulis juga ingin memperkenalkan kebudayaan atau tradisi masyarakat Dusun Derepan kepada masyarakat luas, agar masyarakat luas mengetahui jenis, simbol-simbol yang digunakan sebagai media komunikasi, dan nilai-nilai yang terkandung dalam prosesi tradisi sadranan.

B.     Rumusan Masalah

Adapun perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.    Apa makna tradisi Sadranan di Dusun Derepan Desa Munggangsari Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang?

2.    Bagaimana peran tradisi Sadranan Sebagai Sarana Komunikasi Sosial di Dusun Derepan Desa Munggangsari Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang?

C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penelitian:

1.    Untuk mengetahui makna tradisi Sadranan di Dusun Derepan

2.    Untuk mengetahui peran tradisi Sadranan Sebagai Sarana Komunikasi Sosial di Dusun Derepan

Manfaat Penelitian:

1.    Bagi Peneliti

a.      Untuk menambah wawasan tentang tradisi-tradisi yang ada di Indonesia.

b.      Menambah pengetahuan yang lebih tentang tradisi Sadranan.

c.      Dapat menjadi modal berharga untuk melakukan penelitian-penelitian selanjutnya.

d.      Dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan.

2.    Bagi Masyarakat

a.       Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih tentang tradisi Sadranan.

b.      Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi terhadap masyarakat tentang tradisi yang biasa mereka lakukan.

c.       Dari hasil penelitaian ini diharapkan dapat membuka wacana baru bagi masyarakat untuk lebih bisa memahami tradisi yang mereka lakukan.

d.      Dari hasil penelitian ini diharapkan masyarakat lebih bisa terinspirasi untuk melakukan hal-hal yang dapat bermanfaat bagi kepentingan masyarakat itu sendiri dan yang lain.


 

BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Tradisi Sadranan

1.      Pengertian Tradisi Sadranan

Tradisi adalah sesuatu yang sulit berubah, karena sudah menyatu dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Menurut Prof. Dr. Kasmiran Wuryo, tradisi masyarakat merupakan bentuk norma yang terbentuk dari bawah, sehingga sulit untuk diketahui sumber asalnya (Wurto:38).

Tradisi menurut Parsudi Suparlan PhD. Merupakan unsur social budaya yang mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah (Parsudi Suparlan, 1997:115).(Prof. Dr. H. Jalaluddin.2001:183-184)

Tradisi berasal dari kata latin traditio yang berkata dasar trodere, memiliki arti menyerahkan, meneruskan, turun temurun. Tradisi menurut etimologi adalah kebiasaan, sedangkan menurut terminologi adalah adat atau kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan masyarakat (Saefulloh, 2018: 84).

Pada awalnya, nyadran adalah Tradisi Hindu-Buddha. Kemudian sejak abad ke-15 Wali Songo menggabungkan Tradisi tersebut dalam dakwah agar agama Islam mudah diterima oleh masyarakat. Para wali berusaha meluruskan kepercayaan masyarakat Jawayang waktu itu memuja roh. Dalam ajaran agama Islam, hal itu dinilai musyrik. Supaya tidak berbenturan dengan Tradisi Jawasaat itu, maka para wali tidak menghapuskan Tradisi tersebut. Para wali mengisi kegiatan nyadran sesuai ajaran agama Islam, yaitu dengan pembacaan ayat suci al-Qur‟an, Tahlil, dan Doa (Bayuadhy, 2015: 97).

Nyadran adalah ritual tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Nyadran ialah sebagai proses membersihkan hati. Pengertian nyadran dalam pemahaman ini didasarkan pada asal kata nyadran “sodrun, sadran, sudra, yang berarti dada atau hati, berkumpul dengan orang awam dalam situasi sama. mengartikan nyadran sebagai Tradisi mengunjungi makam leluhur yang diambil dari bahasa sanskerta “sadra”. Pada sebagian masyarakat Jawa, kata sadra kemudian dirubah dengan sadran atau nyadran yang memiliki arti ziarah kubur (Hasyim, 2016: 21).

Nyadran berasal dari bahasa sanskerta, sraddha yang berarti keyakinan. Ketika nyadran, masyarakat di pedesaan membersihkan makam. Selain itu, masyarakat juga melakukan tabur bunga dan mendoakan leluhur masing-masing agar mendapatkan tempat yang kepenak (baik) di sisi Tuhan. Puncak dari upacara Nyadran ialah Kenduri selamatan di rumah masing-masing (Bayuadhi, 2015: 98).

Nyadran adalah upacara Tradisi onal yang sangat umum dilaksanakan oleh masyarakat Islam yang secara umum merupakan ritual doa-doa dan sedekahan makanan, yang dimaksudkan untuk mendoakan arwah atau orang-orang yang sudah meninggal yang didahului dengan prosesi doa bersama (tahlil dan doa bagi arwah) memintakan pengampunan dosa bagi arwah masing-masing. Lalu sedekah dimaksudkan agar pahalanya dilimpahkan kepada para arwah yang ada di alam barzah. Jadi inti dari nyadran itu adalah untuk mengirimkan doa dan pahala amal untuk orang yang sudah meninggal dunia (Saefullah, 2018: 85).

Bentuk komunikasi sosial dari Tradisi upacara Sadranan adalah penyampaian pesan atau nasihat dari orang-orang tua zaman dahulu kepada generasi mudanya agar tetap hormat kepada arwah nenek moyang atau leluhurnya yang diharapkan berimbas kepada menghormati orang tua yang masih hidup. Selain itu dalam Tradisi Sadranan terdapat bentuk aktualisasi diri masyarakat sebagai wujud eksistensi diri dalam aktivitas sosial, serta memupuk hubungan yang baik antar warga (Hanun dkk, 2014: 204).

2.      Prosesi Tradisi Sadranan

Tradisi nyadran dilakukan masyarakat Jawa untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Kegiatan yang dilakukan saat nyadran adalah sebagai berikut:

a.    Menyelenggarakan kenduri dengan pembacaan ayat al-Qur‟an, dzikir, tahlil, dan doa. Acara ini dilanjutkan dengan makan bersama.

b.    Melakukan bersih-bersih makam leluhur dari dedaunan kering dan rerumputan.

c.     Melakukan ziarah kubur disertai dengan doa untuk arwah para leluhur yang sudah meninggal dunia (Bayuadhi, 2015: 98).

Proses pelaksanaan Tradisi Sadranan dimulai dari Perangkat dusun mengadakan rapat sebelum Tradisi Sadranan dilaksanakan. Rapat ini diselenggarakan oleh pihak dusun dengan menghadirkan Kepala Desa dan Kepala Dusun. Rapat ini dilaksankan kira-kira 1 bulan sebelum Tradisi Sadranan dilaksanakan. Rapat ini membahas tentang pembentukan panitia Sadranan, Pelaksanaan Sadranan di Dusun Derepan. Setelah rapat selesai, pihak penanggung Jawab masing-masing disunahkan menyampaikan hasil rapat kepada warganya dan disosialisasikan kepada warga agar warga mengetahui tentang kapan pelaksanaan Sadranan dan apa saja yang harus dipersiapkan. Tetapi biasanya warga sudah mengetahui kapan Nyadran dilaksanakan dengan cara menghitung dari kalender Jawa yang sudah biasa dilakukan setiap tahun. Prosesi pelaksanaan Tradisi Sadranan dimulai pada H-1 pelaksanaan Tradisi Sadranan di Dusun Derepan yaitu “Besik”. Besik ialah membersihkan makam para leluhur. Besik/nyekar/ziarah kubur ialah berkunjung ke makam leluhur yang sudah meninggal untuk membersihkan tempatnya kemudian dilanjutkan dengan mendoakan atau mengirim doa untuk para leluhur yang sudah gugur mendahului kita. Masyarakat mewajibkan diri untuk melaksanakan Tradisi ini sebelum pelaksanaan upacara Nyadran atau Sadranan. Pada hari pelaksanaan upacara Tradisi Sadranan, jam 07:30 pagi masyarakat yang akan mengikuti Sadranan berbondong-bondong menuju Makam dengan membawa tikar, tenong, dll. Masing-masing warga menggelar tikar di pelataran makam untuk mengikuti upacara nyadran tersebut.

B.     Komunikasi Sosial

1.         Pengertian Komunikasi Sosial

Komunikasi merupakan sesuatu yang sangat vital. Komunikasi berperan penting bagi kehidupan manusia karena manusia itu sendiri dikenal sebagai makhluk sosial. Setiap saat di dunia ini melakukan komunikasi, baik itu komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal. Namun, berkomunikasi dengan mengharapkan timbal balik yang positif dari lawan bicara. Menurut Deddy Mulyana, terdapat empat fungsi komunikasi yakni: komunikasi sosial, komunikasi ekspretif, komunikasi ritual, dan komunikasi instrumental.

Komunikasi sosial adalah kegiatan komunikasi yang diarahkan pada pencapaian suatu situasi integrasi sosial. Komunikasi sosial juga merupakan suatu proses pengaruh-mempengaruhi mencapai keterkaitan sosial yang dicita-citakan antar individu yang ada di masyarakat. Komunikasi sosial setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri, aktualisasi diri, kelangsungan hidup, memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan (lewat komunikasi yang bersifat menghibur) dan mempunyai hubungan dengan orang lain.

2.         Unsur-Unsur Komunikasi Sosial

 Menurut Hendropuspito dalam Sutaryo, pengertian komunikasi sosial mencakup unsur-unsur berikut : Komunikator, yaitu pihak yang memulai komunikasi. Komunikator dapat diartikan sebagai orang atau suatu intuisi. Dalam proses komunikasi komunikator merupakan unsur yang aktif yang mengambil prakasa untuk bertindak.

a.         Amanat, yaitu hal yang disampaikan. Amanat berupa perintah kabar buah pikiran, pendapat, anjuran dan sebagainya. Maksud penyampaian ialah upaya pemahaman dan tanggapan pihak lain.

b.        Media untuk penyampaian amanat, yaitu daya upaya untuk menyampaikan amanat kepada penerima. Dalam uraian selanjutnya dinamakan “media komunikasi sosial”. media komunikasi sosial ini memiliki dua unsur yaitu unsur pertanyaan (ungkapan) amanat itu sendiri dan alat yang dipakai untuk menyampaiakan amanat. Pertanyaan (ungkapan) berbeda-beda bentuknya antara lain: tanda kode, isyarat, gerak badan, perkataan, lisan atau tertulis, lambang-lambang yang dapat dimengerti. Menurut situasi dan kondisinya alat yang digunakan untuk menyampaikan komunikasi juga berbeda antara lain: surat, telepon radio, televise, pita suara, media cetak, juga seni lukis dan seni pentas, dan lainlain.

c.         Komunikan, yaitu orang atau satuan orang-orang yang menjadi sasaran komunikasi itu. Kepada mereka amanat disampaikan, dari mereka juga diharapkan tanggapan, dan dalam diri mereka proses komunikasi berakhir. Dalam proses komunikasi, komunikan unsur pasif yang merupakan lawan dari komunikator yang bersifat aktif.

d.        Tanggapan (respons), merupakan tujuan dari komunikator, yang diinginkan adalah tanggapan dari komunikan sama dengan maksud komunikator. Dengan demikian komunikasi berhasil dan efektivitas komunikasi tercapai.

3.        Jenis-Jenis Komunikasi Sosial

Menurut Hendropuspito dalam Sutaryo, komunikasi sosial dapat diklasifikasi menjadi beberapa jenis menurut sudut pandang tertentu yaitu sebagai berikut :

a.    Komunikasi Langsung dan Tidak Langsung Komunikasi langsung (direct communication) juga disebut komunikasi dari muka ke muka (face to face). Si pengirim amanat berhubungan langsung dengan si penerima, komunikasi jenis ini biasanya yang sering dilakukan oleh masyarakat dan  si pengirim amanat dapat langsung menerima tanggapannya, selain itu jenis komunikasi ini memberikan suasana tersendiri lebih akrab dan saling percaya. Komunikasi tidak langsung (indirect communication) terjadi apabila dalam berkomunikasi menggunakan satu atau lebih perantara. Komunikasi ini terjadi dalam situasi tertentu misalnya karena jarak dan karena sifat amanat itu dirasa kurang sesuai dengan jika disampaikan oleh si pengirim.

b.   Komunikasi Satu Arah dan Komunikasi Timbal Balik Komunikasi satu arah (oneway communication) terjadi apabila penyampaian amanat itu datang dari satu jurusan, jadi tidak mungkin ada tanggapan langsung dari penerima. Sedangkan komunikasi timbal balik (reciprocal communication) terjadi apabila pihak penerima bisa memberi tanggapan langsung pada pemberi. Bentuk komunikasi ini dapat mempererat hubungan persaudaraan karena kedua belah pihak saling aktif.

c.    Komunikasi Bebas dan Komunikasi Fungsional Komunikasi bebas (nonorganic) tidak terikat pada formalitas yang harus ditaati. Satu-satunya ikatan yang kode sosial-kultural, misalnya komunikasi dalam pergaulan biasa dimana kedua belah pihak harus mengenal aturan sopan santun. Sedangkan komunikasi fungsional (institutional) terikat pada aturan yang bersangkutan. Komunikasi ini bersifat fungsional dan strukural.

d.   Komunikasi Individual dan Komunikasi Massa Komunikasi individual (individual communication) ditujukkan kepada satu orang yang sudah dikenal. Pihak komunikan bukan anonym, tapi orang yang dikenal baik oleh pihak komunikator. Komunikasi massal (mass communication) ditujukkan pada umum yang tidak dikenal. Pihak komunikan terdiri dari berbagai massa dengan berbagai sosio-kultural, ras dan usia. Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia bisa dipastikan akan tersesat, karena ia tidak sempat menata dirinya dalam suatu lingkungan sosial. Komunikasi yang memungkinkan invidu membangun suatu kerangka rujukan dan menggunakannya sebagai pantuan untuk menafsirkan. Situasi apapun yang ia hadapi. Komunikasi pula yang memungkinkannya memperlajari situasi-siatuasi problematika. Tanpa melibatkan diri dalam komunikasi, seseorang tidak akan tahu bagaimana makan, minum, bebrbicara sebagai manusia lain secara beradab, karena cara-cara berperilaku tersebut dipelajari lewat pengasuhan keluarga dan pergaulan dengan orang lain yang intinya adalah komunikasi. (Sutaryo,2015)

 

C.     Peran Tradisi Sadranan Sebagai Sarana Komunikasi Sosial Di Dusun Derepan Desa Munggangsari Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang

Bentuk komunikasi sosial dari tradisi upacara Sadranan ini adalah penyampaian pesan atau nasehat dari orang-orang tua zaman dahulu kepada generasi mudanya agar tetap hormat kepada arwah nenek moyang atau leluhurnya yang diharapkan berimbas kepada menghormati orang tuayang masih hidup. Disamping itu, komunikasi sosial juga tampak ketika warga masyarakat Dusun Derepan menunjukkan aktualisasi dirinya sebagai bentuk eksistensi dengan mengikuti prosesi upacara Sadranan. Hal tersebut merupakan suatu keinginan untuk menunjukkan diri bahwa mereka pun ada dan turut aktif mengikuti rangkaian kegiatan upacara Sadranan.

Masyarakat Dusun Derepan juga menunjukkan rasa nyaman, tenteram,saat berbaur tanpa terhalang oleh perbedaan kelas sosial dengan warga lainnya, dimana hal tersebut mengisyaratkan bahwa komunikasi sosial dilakukan untuk pemenuhan diri untuk merasa terhibur pada saat memupuk hubungan baik dengan sesama. Upacara Sadranan juga dijadikan sebagai wahana pergaulan sosial dimana terjadi penyampaian informasi yang melibatkan seluruh lapisan warga masyarakat Dusun Derepan.

Upacara Sadranan merupakan salah satu bentuk komunikasi sosial yang memiliki makna berupa keselarasan atau sebuah harmoni yang tercipta dalam dinamika kehidupan warga masyarakat Dusun Derepan. Harmoni sosial tampak begitu nyata dalam perilaku hidup sehari-hari warga masyarakat Dusun Derepan. Upacara Sadranan pun memiliki peranan penting dalam menciptakan harmoni sosial pada kehidupan masyarakat Dusun Derepan. Kerja bakti bersih makam merupakan salah satu simbol dari harmoni sosial dimana terdapat guyub rukun, gotong royong, serta nuansa kekeluargaan yang sangat kental. Melalui harmoni sosial inilah tercipta suatu bentuk keselarasan yang berujung pada kesejahteraan bersama dalam hidup bermasyakat. Bagi orang Jawa keselarasan sosial atau keharmonisan merupakan sebuah rangkaian besar terjadinya kesejahteraan hidup bersama. Karena kesejahteraan terikat secara mutlak pada keselarasan sosial, antara sesama yang illahi, alam dan sesama manusia.


 

BAB III
METODE PENELITIAN

 

A.      Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif ini diambil karena dalam penelitian ini sasaran atau obyek penelitian dibatasi agar data-data yang diambil dapat digali sebanyak mungkin serta agar dalam penelitian ini tidak dimungkinkan adanya pelebaran obyek penelitian.

Jenis penelitian ini adalah penelitian naturalistik. Penelitian naturalistik lebih banyak kearah penelitian lapangan dan penafsiran sebuah fenomena.

B.       Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan tepatnya di tempat atau lokasi penelitian akan dilakukan di Dusun Derepan Desa Munggangsari Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang.

C.      Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang dapat digunakan adalah : Data kualitatif Yaitu data yang dipergunakan untuk permintaan informasi yang bersifat menerangkan dalam bentuk kalimat atau uraian. (Burian Bugis, 2004)

Sumber data yang dapat digunakan  adalah data primer yaitu masyarakat Dusun Derpan dan yang kedua adalah dari peristiwa yang terjadi, yaitu peristiwa tradisi Sadranan itu sendiri dan juga dapat ditambah dengan sumber-sumber pendukung (data sekunder) yang mungkin ada pada lokasi atau obyek penelitian, bisa berupa dokumen-dokumen, ataupun masyarakat sekitar Dusun Derepan ataupun dari sumber yang lain yang berhubungan dengan penelitian atau yang mendukung penelitian.

 

D.      Tehnik pengumpulan data

Dalam penelitian ini sudah tentu memerlukan adanya data-data, yaitu sebagai bahan yang akan distudi, untuk memperolehnya perlu adanya metode sebagai bahan pendekatan. Pada dasarnya penelitian ini dalam memperoleh data harus disesuaikan dengan permasalahan dan situasi serta kondisi yang ada. Sehingga data yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan kevaliditasannnya.
Oleh karena itu berdasarkan sifat penelitian, maka metode pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:

a.       Metode wawancara ( interview)

Wawancara adalah proses antara pewawancara (Interviewer) dengan yang diwawancarai (interviewee) melalui komunikasi langsung atau dapat juga dikatakan sebagai proses percakapan tatap muka (face to face) antara interviewer dengan interviewee dimana pewawancara bertanya langsung tentang sesuatu aspek yang dinilai dan telah dirancang sebelumnya. (A. Muri Yusuf, 2005:140).

b.      Metode observasi

Observasi adalah metode atau cara-cara yang menganalisis dan mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat atau mengamati individu atau kelompok secara langsung” cara atau metode tersebut dapat juga dikatakan dengan menggunakan teknik dan alat-alat khusus seperti blangko-blangko, checklist, atau daftar isian yang telah dipersiapkan sebelumnya. (A.Muri Yusuf, 2005:132)


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kastolani, & Abdullah Yusof. 2016. Relasi Islam dan Budaya Lokal Studi tentang Tradisi Nyadran di Desa Sumogawe Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang, Kontemplasi, Vol. 04, No. 1.

Hasanah, Hasyim. 2016. Implikasi Psiko-Sosio-Religius Tradisi Nyadran Warga Kedung Ombo Zaman Orde Baru, Vol. 3, No. 2.

Bayuadhy, Gesta. 2015. Tradisi -Tradisi Adiluhung Para Leluhur Jawa. Yogyakarta: DIPTA.

Saefullah, Muhammad. 2018. Nilai-Nilai Pendidikan Islam Pada Tradisi Nyadran di Desa Traji Kecamatan Parakan Kabupaten Magelang, Jurnal Paramurobi, Vol. 1, No. 2.

Wuryansai, Hanun, dkk. 2014. Sadranan Sebagai Bentuk Komunikasi Sosial, Jurnal ASPIKOM, Vol. 2, No. 3.

Deddy Mulyana. Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001

Sutaryo. Sosiologi Komunikasi. (Yogyakarta: Arti Bumi Intaran, 2005)

Bugis, Burian. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Surabaya. Prenada Media. 2004

A.Muri Yusuf.2005. Metodologi Penelitian (Dasar-Dasar Penyelidikan Ilmiah). Padang: UNP Press.

 

  

Comments

Popular posts from this blog

MAKALAH AGAMA BUDDHA "STUDI AGAMA-AGAMA"