PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF NATURALISTIK
- Get link
- X
- Other Apps
LINK DOWNLOAD FILE
DISINI
BAB I
PENDAHULUAN
Indonesia
merupakan negara multikultural, negara yang terdiri dari banyak pulau dengan
beragam suku bangsa di dalamnya. Dari setiap suku bangsa tentunya memiliki
banyak sekali budaya yang berbeda-beda dari adat istiadat yang masyarakat
jalankan. Kemunculan yang terdapat dari berbagai ritual kebudayaan di berbagai
daerah mempunyai karakteristik tersendiri di setiap daerahnya. Hal itu
disebabkan oleh adanya perbedaan geografis dan sebagian besar adala h
peninggalan nenek moyang di setiap daerahnya, sehingga masyarakat menganggap
bahwa budaya adalah suatu adat yang sangat bernilai dan memiliki banyak sekali
arti penting dari setiap kegiatan yang dilaksanakan.
Islam dan
budaya memiliki relasi yang tak terpisahkan, dalam Islam sendiri ada nilai
universal dan absolut sepanjang zaman. Namun demikian, Islam sebagai dogma
tidak kaku dalam mengahadapi zaman dan perubahannya. Islam selalu memunculkan
dirinya dalam bentuk yang luwes, ketika menghadapi masyarakat yang dijumpainya
dengan beraneka ragam budaya, adat kebiasaan atau Tradisi (Kastolani, 2016: 2).
Sebagai sebuah
kenyataan sejarah, agama dan kebudayaan dapat saling mempengaruhi, agama
memerlukan kebudayaan agama. Tetapi keduanya perlu dibedakan. Agama adalah
sesuatu yang final, universal, abadi (parennial) dan tidak mengenal perubahan
(absolute). Sedangkan kebudayaan 2 bersifat partikular, relatif, dan temporer.
Agama tanpa kebudayaan memang dapat berkembang sebagai agama pribadi, tetapi
tanpa kebudayaan agama sebagai kolektivitas tidak akan mendapat tempat. Islam
merespon budaya lokal, adat atau Tradisi sepanjang budaya lokal, adat atau
Tradisi tersebut tidak bertentangan dengan spirit nash al-Qur‟an dan Sunnah
(Kastolani, 2016: 3).
Dari pengertian
di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa kebudayaan Islam ialah suatu budaya
yang dihasilkan oleh sekelompok masyarakat yang tidak menyimpang dari ajaran agama
Islam. Dalam sejarah perkembangan kebudayaan mengalami akulturasi dengan
berbagai bentuk kultur yang ada. Dari setiap masyarakat tentunya memiliki
kebudayaan yang bermacam-macam. Salah satu budaya yang mengalami akulturasi
ialah Tradisi Sadranan.
Budaya itu
sendiri diyakini sebagai hasil tingkah laku atau kreasi manusia, memerlukan
bahan materi atau alat penghantar untuk menyampaikan maksud. Medium budaya itu
dapat berupa bahasa, benda, warna, suara, tindakan yang merupakan simbol-simbol
budaya. Budaya Jawa yang dikatakan edi penidan adi luhung, karena telah terbina
selama berabad-abad lamanya.
Penggunaan
simbol dalam suatu budaya merupakan media yang berasal dari nenek moyang untuk
melukiskan segala macam bentuk pesan pengetahuan pada masyarakat sebagai
generasi penerus. Adanya simbol yang melekat pada suatu adat ataupun kebudayaan
diharapkan dapat memberi pemahaman bagi masyarakat penggunanya.
Dengan
mengangkat tema tradisi Sadranan ini mampu memberi pengetahuan kepada
masyarakat luas mengenai kebudayaan yang mungkin selama ini kurang diperhatikan
secara khusus oleh sebagian besar masyarakat sehingga dapat menambah wawasan
budaya khususnya di daerah pedesaan dan menjadikannya sebagai sarana untuk
diadakannya komunikasi antar masyarakat dalam meningkatkan perkembangan budaya.
Dari uraian
diatas, kami mencoba membahas masalah budaya yang bernuansa islami yang sampai
sekarang oleh sebagian masyarakat di Indonesia masih menjalankannya. Seperti
yang ada pada uraian dan judul diatas tadi. Berkaitan dengan budaya, masyarakat
Indonesia tidak akan bisa lepas dari yang namanya budaya, karena budaya di
Indonesia sudah mengakar, bahkan menjadi satu kesatuan yang sulit untuk
dipisahkan. Disinilah pentingnya sebuah pemahaman yang lebih mendalam berkaitan
dengan budaya dan komunikasi, sehingga kita tidak akan buru-buru dalam
menghukumi jelek dalam arti tidak baik untuk dilakukan. Karena permasalahan
itulah kami mencoba mengangkat judul tersebut agar kita tidak langsung
menganggap suatu adat istiadat, tradisi, maupun budaya sebagai sesuatu yang
tidak baik, buruk dan lain sebagainya, tanpa melalui data-data ilmiah.
Oleh karena itu kami merasa perlu untuk mengangkat penelitian mengenai
upacara tradisi Sadranan sebagai salah satu upaya dalam melestarikan upacara
adat ini. Mengingat semakin
maraknya budaya modern yang berkembang luas serta gaya hidup masyarakat yang
semakin maju, namun nyatanya tradisi Sadranan ini masih tetap
dilaksanakan oleh suku Jawa secara rutin tiap tahun khususnya masyarakat Dusun
Derepan Desa Munggangsari Kecamatan Kaliangkrik,
Kabupaten Magelang. Di samping itu, penulis juga ingin memperkenalkan kebudayaan
atau tradisi masyarakat Dusun Derepan kepada masyarakat luas, agar masyarakat luas
mengetahui jenis, simbol-simbol yang digunakan sebagai media komunikasi, dan nilai-nilai
yang terkandung dalam prosesi tradisi sadranan.
Adapun perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Apa makna tradisi Sadranan di Dusun Derepan Desa Munggangsari
Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang?
2.
Bagaimana peran tradisi Sadranan Sebagai Sarana Komunikasi Sosial
di Dusun Derepan Desa Munggangsari Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang?
C.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian:
1.
Untuk mengetahui makna tradisi Sadranan di Dusun Derepan
2.
Untuk mengetahui peran tradisi Sadranan Sebagai Sarana Komunikasi
Sosial di Dusun Derepan
Manfaat Penelitian:
1.
Bagi Peneliti
a.
Untuk menambah wawasan tentang tradisi-tradisi yang ada di Indonesia.
b.
Menambah pengetahuan yang lebih tentang tradisi Sadranan.
c.
Dapat menjadi modal berharga untuk melakukan penelitian-penelitian
selanjutnya.
d.
Dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan.
2.
Bagi Masyarakat
a.
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman
yang lebih tentang tradisi Sadranan.
b.
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi
terhadap masyarakat tentang tradisi yang biasa mereka lakukan.
c.
Dari hasil penelitaian ini diharapkan dapat membuka wacana baru
bagi masyarakat untuk lebih bisa memahami tradisi yang mereka lakukan.
d.
Dari hasil penelitian ini diharapkan masyarakat lebih bisa
terinspirasi untuk melakukan hal-hal yang dapat bermanfaat bagi kepentingan
masyarakat itu sendiri dan yang lain.
BAB II
KAJIAN TEORI
1.
Pengertian Tradisi Sadranan
Tradisi adalah sesuatu yang sulit berubah, karena sudah menyatu
dalam kehidupan masyarakat pendukungnya. Menurut Prof. Dr. Kasmiran Wuryo,
tradisi masyarakat merupakan bentuk norma yang terbentuk dari bawah, sehingga
sulit untuk diketahui sumber asalnya (Wurto:38).
Tradisi menurut Parsudi Suparlan PhD. Merupakan unsur social budaya
yang mengakar dalam kehidupan masyarakat dan sulit berubah (Parsudi Suparlan,
1997:115).(Prof. Dr. H. Jalaluddin.2001:183-184)
Tradisi berasal dari kata latin traditio yang berkata dasar
trodere, memiliki arti menyerahkan, meneruskan, turun temurun. Tradisi menurut
etimologi adalah kebiasaan, sedangkan menurut terminologi adalah adat atau
kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun (dari nenek moyang) yang masih
dijalankan masyarakat (Saefulloh, 2018: 84).
Pada awalnya, nyadran adalah Tradisi Hindu-Buddha. Kemudian sejak
abad ke-15 Wali Songo menggabungkan Tradisi tersebut dalam dakwah agar agama
Islam mudah diterima oleh masyarakat. Para wali berusaha meluruskan kepercayaan
masyarakat Jawayang waktu itu memuja roh. Dalam ajaran agama Islam, hal itu
dinilai musyrik. Supaya tidak berbenturan dengan Tradisi Jawasaat itu, maka
para wali tidak menghapuskan Tradisi tersebut. Para wali mengisi kegiatan
nyadran sesuai ajaran agama Islam, yaitu dengan pembacaan ayat suci al-Qur‟an,
Tahlil, dan Doa (Bayuadhy, 2015: 97).
Nyadran adalah ritual tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa.
Nyadran ialah sebagai proses membersihkan hati. Pengertian nyadran dalam
pemahaman ini didasarkan pada asal kata nyadran “sodrun, sadran, sudra, yang
berarti dada atau hati, berkumpul dengan orang awam dalam situasi sama.
mengartikan nyadran sebagai Tradisi mengunjungi makam leluhur yang diambil dari
bahasa sanskerta “sadra”. Pada sebagian masyarakat Jawa, kata sadra kemudian
dirubah dengan sadran atau nyadran yang memiliki arti ziarah kubur (Hasyim,
2016: 21).
Nyadran berasal dari bahasa sanskerta, sraddha yang berarti
keyakinan. Ketika nyadran, masyarakat di pedesaan membersihkan makam. Selain
itu, masyarakat juga melakukan tabur bunga dan mendoakan leluhur masing-masing
agar mendapatkan tempat yang kepenak (baik) di sisi Tuhan. Puncak dari upacara
Nyadran ialah Kenduri selamatan di rumah masing-masing (Bayuadhi, 2015: 98).
Nyadran adalah upacara Tradisi onal yang sangat umum dilaksanakan
oleh masyarakat Islam yang secara umum merupakan ritual doa-doa dan sedekahan
makanan, yang dimaksudkan untuk mendoakan arwah atau orang-orang yang sudah
meninggal yang didahului dengan prosesi doa bersama (tahlil dan doa bagi arwah)
memintakan pengampunan dosa bagi arwah masing-masing. Lalu sedekah dimaksudkan
agar pahalanya dilimpahkan kepada para arwah yang ada di alam barzah. Jadi inti
dari nyadran itu adalah untuk mengirimkan doa dan pahala amal untuk orang yang
sudah meninggal dunia (Saefullah, 2018: 85).
Bentuk komunikasi sosial dari Tradisi upacara Sadranan adalah
penyampaian pesan atau nasihat dari orang-orang tua zaman dahulu kepada
generasi mudanya agar tetap hormat kepada arwah nenek moyang atau leluhurnya
yang diharapkan berimbas kepada menghormati orang tua yang masih hidup. Selain
itu dalam Tradisi Sadranan terdapat bentuk aktualisasi diri masyarakat sebagai
wujud eksistensi diri dalam aktivitas sosial, serta memupuk hubungan yang baik
antar warga (Hanun dkk, 2014: 204).
Tradisi nyadran dilakukan masyarakat Jawa untuk menyambut datangnya
bulan Ramadhan. Kegiatan yang dilakukan saat nyadran adalah sebagai berikut:
a.
Menyelenggarakan kenduri dengan pembacaan ayat al-Qur‟an, dzikir,
tahlil, dan doa. Acara ini dilanjutkan dengan makan bersama.
b.
Melakukan bersih-bersih makam leluhur dari dedaunan kering dan
rerumputan.
c.
Melakukan ziarah kubur disertai dengan doa untuk arwah para leluhur
yang sudah meninggal dunia (Bayuadhi, 2015: 98).
Proses pelaksanaan Tradisi Sadranan dimulai dari Perangkat dusun
mengadakan rapat sebelum Tradisi Sadranan dilaksanakan. Rapat ini
diselenggarakan oleh pihak dusun dengan menghadirkan Kepala Desa dan Kepala
Dusun. Rapat ini dilaksankan kira-kira 1 bulan sebelum Tradisi Sadranan
dilaksanakan. Rapat ini membahas tentang pembentukan panitia Sadranan,
Pelaksanaan Sadranan di Dusun Derepan. Setelah rapat selesai, pihak penanggung
Jawab masing-masing disunahkan menyampaikan hasil rapat kepada warganya dan
disosialisasikan kepada warga agar warga mengetahui tentang kapan pelaksanaan
Sadranan dan apa saja yang harus dipersiapkan. Tetapi biasanya warga sudah
mengetahui kapan Nyadran dilaksanakan dengan cara menghitung dari kalender Jawa
yang sudah biasa dilakukan setiap tahun. Prosesi pelaksanaan Tradisi Sadranan
dimulai pada H-1 pelaksanaan Tradisi Sadranan di Dusun Derepan yaitu “Besik”.
Besik ialah membersihkan makam para leluhur. Besik/nyekar/ziarah kubur ialah
berkunjung ke makam leluhur yang sudah meninggal untuk membersihkan tempatnya
kemudian dilanjutkan dengan mendoakan atau mengirim doa untuk para leluhur yang
sudah gugur mendahului kita. Masyarakat mewajibkan diri untuk melaksanakan
Tradisi ini sebelum pelaksanaan upacara Nyadran atau Sadranan. Pada hari
pelaksanaan upacara Tradisi Sadranan, jam 07:30 pagi masyarakat yang akan
mengikuti Sadranan berbondong-bondong menuju Makam dengan membawa tikar,
tenong, dll. Masing-masing warga menggelar tikar di pelataran makam untuk
mengikuti upacara nyadran tersebut.
1.
Pengertian Komunikasi Sosial
Komunikasi merupakan sesuatu yang sangat vital. Komunikasi berperan
penting bagi kehidupan manusia karena manusia itu sendiri dikenal sebagai
makhluk sosial. Setiap saat di dunia ini melakukan komunikasi, baik itu
komunikasi verbal maupun komunikasi non verbal. Namun, berkomunikasi dengan
mengharapkan timbal balik yang positif dari lawan bicara. Menurut Deddy
Mulyana, terdapat empat fungsi komunikasi yakni: komunikasi sosial, komunikasi
ekspretif, komunikasi ritual, dan komunikasi instrumental.
Komunikasi sosial adalah kegiatan komunikasi yang diarahkan pada
pencapaian suatu situasi integrasi sosial. Komunikasi sosial juga merupakan
suatu proses pengaruh-mempengaruhi mencapai keterkaitan sosial yang
dicita-citakan antar individu yang ada di masyarakat. Komunikasi sosial
setidaknya mengisyaratkan bahwa komunikasi itu penting untuk membangun konsep
diri, aktualisasi diri, kelangsungan hidup, memperoleh kebahagiaan, terhindar
dari tekanan dan ketegangan (lewat komunikasi yang bersifat menghibur) dan mempunyai
hubungan dengan orang lain.
2.
Unsur-Unsur Komunikasi Sosial
Menurut Hendropuspito dalam
Sutaryo, pengertian komunikasi sosial mencakup unsur-unsur berikut : Komunikator,
yaitu pihak yang memulai komunikasi. Komunikator dapat diartikan sebagai orang
atau suatu intuisi. Dalam proses komunikasi komunikator merupakan unsur yang
aktif yang mengambil prakasa untuk bertindak.
a.
Amanat, yaitu hal yang disampaikan. Amanat berupa perintah kabar
buah pikiran, pendapat, anjuran dan sebagainya. Maksud penyampaian ialah upaya
pemahaman dan tanggapan pihak lain.
b.
Media untuk penyampaian amanat, yaitu daya upaya untuk menyampaikan
amanat kepada penerima. Dalam uraian selanjutnya dinamakan “media komunikasi
sosial”. media komunikasi sosial ini memiliki dua unsur yaitu unsur pertanyaan
(ungkapan) amanat itu sendiri dan alat yang dipakai untuk menyampaiakan amanat.
Pertanyaan (ungkapan) berbeda-beda bentuknya antara lain: tanda kode, isyarat,
gerak badan, perkataan, lisan atau tertulis, lambang-lambang yang dapat dimengerti.
Menurut situasi dan kondisinya alat yang digunakan untuk menyampaikan
komunikasi juga berbeda antara lain: surat, telepon radio, televise, pita
suara, media cetak, juga seni lukis dan seni pentas, dan lainlain.
c.
Komunikan, yaitu orang atau satuan orang-orang yang menjadi sasaran
komunikasi itu. Kepada mereka amanat disampaikan, dari mereka juga diharapkan
tanggapan, dan dalam diri mereka proses komunikasi berakhir. Dalam proses
komunikasi, komunikan unsur pasif yang merupakan lawan dari komunikator yang
bersifat aktif.
d.
Tanggapan (respons), merupakan tujuan dari komunikator, yang
diinginkan adalah tanggapan dari komunikan sama dengan maksud komunikator.
Dengan demikian komunikasi berhasil dan efektivitas komunikasi tercapai.
3.
Jenis-Jenis Komunikasi Sosial
Menurut Hendropuspito dalam Sutaryo, komunikasi sosial dapat
diklasifikasi menjadi beberapa jenis menurut sudut pandang tertentu yaitu
sebagai berikut :
a.
Komunikasi Langsung dan Tidak Langsung Komunikasi langsung (direct
communication) juga disebut komunikasi dari muka ke muka (face to face). Si
pengirim amanat berhubungan langsung dengan si penerima, komunikasi jenis ini
biasanya yang sering dilakukan oleh masyarakat dan si pengirim amanat dapat langsung menerima
tanggapannya, selain itu jenis komunikasi ini memberikan suasana tersendiri
lebih akrab dan saling percaya. Komunikasi tidak langsung (indirect
communication) terjadi apabila dalam berkomunikasi menggunakan satu atau lebih
perantara. Komunikasi ini terjadi dalam situasi tertentu misalnya karena jarak
dan karena sifat amanat itu dirasa kurang sesuai dengan jika disampaikan oleh
si pengirim.
b.
Komunikasi Satu Arah dan Komunikasi Timbal Balik Komunikasi satu
arah (oneway communication) terjadi apabila penyampaian amanat itu datang dari
satu jurusan, jadi tidak mungkin ada tanggapan langsung dari penerima.
Sedangkan komunikasi timbal balik (reciprocal communication) terjadi apabila
pihak penerima bisa memberi tanggapan langsung pada pemberi. Bentuk komunikasi
ini dapat mempererat hubungan persaudaraan karena kedua belah pihak saling
aktif.
c.
Komunikasi Bebas dan Komunikasi Fungsional Komunikasi bebas
(nonorganic) tidak terikat pada formalitas yang harus ditaati. Satu-satunya
ikatan yang kode sosial-kultural, misalnya komunikasi dalam pergaulan biasa
dimana kedua belah pihak harus mengenal aturan sopan santun. Sedangkan
komunikasi fungsional (institutional) terikat pada aturan yang bersangkutan.
Komunikasi ini bersifat fungsional dan strukural.
d.
Komunikasi Individual dan Komunikasi Massa Komunikasi individual
(individual communication) ditujukkan kepada satu orang yang sudah dikenal.
Pihak komunikan bukan anonym, tapi orang yang dikenal baik oleh pihak komunikator.
Komunikasi massal (mass communication) ditujukkan pada umum yang tidak dikenal.
Pihak komunikan terdiri dari berbagai massa dengan berbagai sosio-kultural, ras
dan usia. Orang yang tidak pernah berkomunikasi dengan manusia bisa dipastikan
akan tersesat, karena ia tidak sempat menata dirinya dalam suatu lingkungan
sosial. Komunikasi yang memungkinkan invidu membangun suatu kerangka rujukan
dan menggunakannya sebagai pantuan untuk menafsirkan. Situasi apapun yang ia
hadapi. Komunikasi pula yang memungkinkannya memperlajari situasi-siatuasi
problematika. Tanpa melibatkan diri dalam komunikasi, seseorang tidak akan tahu
bagaimana makan, minum, bebrbicara sebagai manusia lain secara beradab, karena
cara-cara berperilaku tersebut dipelajari lewat pengasuhan keluarga dan
pergaulan dengan orang lain yang intinya adalah komunikasi. (Sutaryo,2015)
Bentuk komunikasi sosial dari tradisi
upacara Sadranan ini adalah penyampaian pesan atau nasehat dari
orang-orang tua zaman dahulu kepada generasi mudanya agar tetap hormat kepada arwah nenek
moyang atau leluhurnya yang diharapkan berimbas kepada menghormati orang
tuayang masih hidup. Disamping itu, komunikasi sosial juga tampak ketika warga masyarakat
Dusun Derepan menunjukkan aktualisasi dirinya sebagai bentuk eksistensi dengan
mengikuti prosesi upacara Sadranan. Hal tersebut merupakan suatu keinginan
untuk menunjukkan diri bahwa mereka pun ada dan turut aktif mengikuti rangkaian
kegiatan upacara Sadranan.
Masyarakat Dusun Derepan juga menunjukkan
rasa nyaman, tenteram,saat berbaur tanpa terhalang oleh perbedaan kelas sosial dengan
warga lainnya, dimana hal tersebut mengisyaratkan bahwa komunikasi sosial
dilakukan untuk pemenuhan diri untuk merasa terhibur pada saat memupuk hubungan
baik dengan sesama. Upacara Sadranan juga dijadikan sebagai wahana pergaulan
sosial dimana terjadi penyampaian informasi yang melibatkan seluruh lapisan
warga masyarakat Dusun Derepan.
Upacara Sadranan merupakan salah satu
bentuk komunikasi sosial yang memiliki makna berupa keselarasan atau sebuah
harmoni yang tercipta dalam dinamika kehidupan warga masyarakat Dusun Derepan.
Harmoni sosial tampak begitu nyata dalam perilaku hidup sehari-hari warga
masyarakat Dusun Derepan. Upacara Sadranan pun memiliki peranan penting dalam
menciptakan harmoni sosial pada kehidupan masyarakat Dusun Derepan. Kerja bakti
bersih makam merupakan salah satu simbol dari harmoni sosial dimana terdapat
guyub rukun, gotong royong, serta nuansa kekeluargaan yang sangat kental.
Melalui harmoni sosial inilah tercipta suatu bentuk keselarasan yang berujung
pada kesejahteraan bersama dalam hidup bermasyakat. Bagi orang Jawa keselarasan
sosial atau keharmonisan merupakan sebuah rangkaian besar terjadinya
kesejahteraan hidup bersama. Karena kesejahteraan terikat secara mutlak pada
keselarasan sosial, antara sesama yang illahi, alam dan sesama manusia.
A.
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif. Pendekatan kualitatif ini diambil karena dalam penelitian ini
sasaran atau obyek penelitian dibatasi agar data-data yang diambil dapat digali
sebanyak mungkin serta agar dalam penelitian ini tidak dimungkinkan adanya
pelebaran obyek penelitian.
Jenis
penelitian ini adalah penelitian naturalistik. Penelitian naturalistik lebih
banyak kearah penelitian lapangan dan penafsiran sebuah fenomena.
Penelitian
dilakukan tepatnya di tempat atau lokasi penelitian akan dilakukan di Dusun
Derepan Desa Munggangsari Kecamatan Kaliangkrik Kabupaten Magelang.
Jenis data yang
dapat digunakan adalah : Data kualitatif Yaitu data yang dipergunakan untuk
permintaan informasi yang bersifat menerangkan dalam bentuk kalimat atau
uraian. (Burian Bugis, 2004)
Sumber data
yang dapat digunakan adalah data primer
yaitu masyarakat Dusun Derpan dan yang kedua adalah dari peristiwa yang
terjadi, yaitu peristiwa tradisi Sadranan itu sendiri dan juga dapat ditambah
dengan sumber-sumber pendukung (data sekunder) yang mungkin ada pada lokasi
atau obyek penelitian, bisa berupa dokumen-dokumen, ataupun masyarakat sekitar Dusun
Derepan ataupun dari sumber yang lain yang berhubungan dengan penelitian atau
yang mendukung penelitian.
Dalam
penelitian ini sudah tentu memerlukan adanya data-data, yaitu sebagai bahan yang
akan distudi, untuk memperolehnya perlu adanya metode sebagai bahan pendekatan.
Pada dasarnya penelitian ini dalam memperoleh data harus disesuaikan dengan
permasalahan dan situasi serta kondisi yang ada. Sehingga data yang diperoleh
dapat dipertanggungjawabkan kevaliditasannnya.
Oleh karena itu berdasarkan sifat penelitian, maka metode pengumpulan data yang
diperlukan dalam penelitian ini adalah:
a.
Metode wawancara ( interview)
Wawancara adalah proses antara pewawancara (Interviewer) dengan
yang diwawancarai (interviewee) melalui komunikasi langsung atau dapat juga
dikatakan sebagai proses percakapan tatap muka (face to face) antara
interviewer dengan interviewee dimana pewawancara bertanya langsung tentang
sesuatu aspek yang dinilai dan telah dirancang sebelumnya. (A. Muri Yusuf, 2005:140).
b.
Metode observasi
Observasi adalah metode atau cara-cara yang menganalisis dan
mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku dengan melihat
atau mengamati individu atau kelompok secara langsung” cara atau metode
tersebut dapat juga dikatakan dengan menggunakan teknik dan alat-alat khusus
seperti blangko-blangko, checklist, atau daftar isian yang telah dipersiapkan
sebelumnya. (A.Muri Yusuf, 2005:132)
DAFTAR PUSTAKA
Kastolani,
& Abdullah Yusof. 2016. Relasi Islam dan Budaya Lokal Studi tentang Tradisi
Nyadran di Desa Sumogawe Kecamatan Getasan Kabupaten Semarang, Kontemplasi,
Vol. 04, No. 1.
Hasanah, Hasyim. 2016. Implikasi Psiko-Sosio-Religius Tradisi
Nyadran Warga Kedung Ombo Zaman Orde Baru, Vol. 3, No. 2.
Bayuadhy, Gesta. 2015. Tradisi -Tradisi Adiluhung Para Leluhur
Jawa. Yogyakarta: DIPTA.
Saefullah, Muhammad. 2018. Nilai-Nilai Pendidikan Islam Pada Tradisi
Nyadran di Desa Traji Kecamatan Parakan Kabupaten Magelang, Jurnal Paramurobi,
Vol. 1, No. 2.
Wuryansai, Hanun, dkk. 2014. Sadranan Sebagai Bentuk Komunikasi
Sosial, Jurnal ASPIKOM, Vol. 2, No. 3.
Deddy Mulyana.
Ilmu Komunikasi, Suatu Pengantar. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001
Sutaryo. Sosiologi
Komunikasi. (Yogyakarta: Arti Bumi Intaran, 2005)
Bugis, Burian. Metodologi
Penelitian Kuantitatif. Surabaya. Prenada Media. 2004
A.Muri
Yusuf.2005. Metodologi Penelitian (Dasar-Dasar Penyelidikan Ilmiah).
Padang: UNP Press.
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment