MAKALAH AGAMA BUDDHA "STUDI AGAMA-AGAMA"
LINK DOWNLOAD FULL DISINI
Segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah
S.W.T. atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
ini dengan sebaik-baiknya, meskipun masih jauh dari kata kesempurnaan. Shalawat
beserta salam kami curahkan kepada Rasulullah S.A.W.
Dalam menyelesaian makalah ini kami berusaha untuk
melakukan yang terbaik. Tetapi kami menyadari bahwa dalam menyelesaikan makalah
ini masih banyak terdapat kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik
dan saran demi perbaikan dan penyempurnaan makalah kami yang akan datang.
Dengan terselesaikannya makalah ini, kami mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam proses pembuatan makalah
ini yang telah memberikan dorongan, semangat dan masukan.
Semoga apa yang kami tulis ini dapat bermanfaat bagi para
pembaca dan masyarakat pada umumnya, serta mendapatkan ridha dari Allah S.W.T.
Amin.
Magelang, 16 Maret 2021
DAFTAR ISI
C. Pokok-pokok Ajaran Agama Buddha
D. Ketuhanan, Metafisika, dan Nirwana dalam Agama Buddha
F. Konsep Ibadat dalam Agama Buddha
G. Doa dan Meditasi dalam Agama Buddha
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan ini tentu seseorang
membutuhkan agama. Untuk memperoleh keyakinan ataupun pengetahuan tentang suatu
agama yang dapat dilakukan melalui penelaahan terhadap informasi yang ada.
Selain itu, suatu informasi agama tersebut juga dapat digunakan sebagai
pembanding antar satu agama dengan agama lainnya, yakni yang salah satunya
adalah mengenai agama Buddha. Dalam pengetahuan yang secara tepat, maka untuk
umat Buddha sangat dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari sedangkan bagi umat
non Buddha dapat mengenal ajaran Buddha di dalam meningkatkan nilai-nilai
toleransi keberagamaan.
Agama Buddha merupakan suatu agama yang lahir
dan berkembang sekitar 6 abad sebelum Masehi. Agama ini muncul berkaitan dengan
situasi sebagai reaksi terhadap sistem upacara agama Hindu yang terlampau kaku.
Dari latar belakang munculnya, agama Buddha mempunyai kaitan erat dengan agama
Hindu. Sebagai agama, ajaran Buddha tidak bertolak dari Tuhan dan hubungan-Nya
dengan alam dan seluruh isinya.
Agama ini mempunyai pemahaman mengenai
kehidupan, yakni keyakinan bertolak dari keadaan yang nyata yang dibatasi oleh
lingkaran dukha yang selalu mengikuti kehidupan orang tersebut. Pada mulanya
ajaran ini bukan merupakan agama tetapi hanya suatu ajaran untuk melepaskan
diri dari sangsara (samsara) dengan tenaga sendiri, sebagaimana dilakukan sang
Budha. Tetapi ajaran ini kemudian berubah manjadi agama yang banyak penganutnya
dan mempengaruhi daya pikir banyak orang.
Rumusan masalah makalah ini adalah:
1. Bagaimanakah
sejarah munculnya agama Buddha?
2. Apa sajakah
kitab suci agama Buddha?
3. Apa sajakah pokok
ajaran yang terdapat di dalam agama Buddha?
4. Bagaimanakah
Ketuhanan, Metafisika, dan Nirwana di dalam agama Buddha?
5. Apa sajakah
aliran di dalam agama Buddha?
6. Bagaimanakah
konsep Ibadat dalam agama Buddha?
7. Bagaimanakah
Doa dan Meditasi di dalam agama Buddha?
8. Siapa sajakah
Buddhisman saat ini?
Tujuan makalah ini adalah:
1. Untuk
mengetahui sejarah munculnya agama Buddha.
2. Untuk
mengetahui kitab suci agama Buddha.
3. Untuk
mengetahui pokok ajaran yang terdapat di dalam agama Buddha.
4. Untuk
mengetahui Ketuhanan, Metafisika, dan Nirwana di dalam agama Buddha.
5. Untuk
mengetahui aliran di dalam agama Buddha.
6. Untuk
mengetahui konsep Ibadat dalam agama Buddha.
7. Untuk
mengetahui Doa dan Meditasi di dalam agama Buddha.
8. Untuk
mengetahui Buddhisman saat ini.
Manfaat pembuatan makalah ini adalah:
1. Dapat
mengetahui sejarah munculnya agama Buddha.
2. Dapat
mengetahui tokoh yang berperan sebagai pendiri dan penyebar agama Buddha.
3. Dapat
mengetahui ajaran yang terdapat di dalam agama Buddha.
4. Dapat
mengetahui aliran-aliran yang ada di dalam agama Buddha.
5. Dapat
bermanfaat untuk umat Buddha sebagai pedoaman untuk kehidupan sehari-hari,
sedangkan bagi umat non Buddha dapat mengenal ajaran Buddha di dalam
meningkatkan nilai-nilai toleransi keberagamaan.
Dalam pembuatan makalah ini kami menggunakan
beberapa metodologi penulisan, salah satu yang digunakan penulis ialah, metode
kepustakaan yakni dengan mengumpulkan bahan-bahan dari website yang terkait
dengan sejarah agama Buddha dan penyebarannya.
Agama Buddha diketahui berdasarkan penelitian
ilmiah yang dilakukan para ilmuwan dengan memanfaatkan berbagai objek pengamatan
seperti peninggalan sejarah, cerita-cerita kuno, dan apa yang tertulis dalam
berbagai kitab masa lampau. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa agama
Buddha terlahir di abad ke-6 SM di Nepal. Orang yang menjadi pencetusnya adalah
seorang ksatria bernama Siddharta Gautama. Agama ini muncul dari perpaduan
berbagai kebudayaan seperti kebudayaan helinistik (Yunani), kebudayaan Asia
Tengah, Asia Timur, dan Asia Tenggara. Agama ini juga muncul karena adanya
reaksi terhadap hadirnya agama Hindu yang muncul lebih awal.
Dari Nepal, agama Buddha menyebar dengan cepat
mengalahkan penyebaran agama Hindu ke berbagai daerah di India, hingga ke
seluruh benua Asia. Hingga kini, agama Buddha sudah menjadi agama mayoritas di
beberapa negara seperti Thailand, Kamboja, Singapura, Myanmar, dan Taiwan.
Sudah menjadi ketentuan umum bahwa yang
menjadi kitab Suci Agama Buddha adalah Tipitaka. Demikian juga halnya di
Indonesia. Hal itu telah ditetapkan dalam kongres umat Buddha Indonesia di
Yogyakarta tahun 1979 yang pada waktu itu dihadiri tujuh majelis Agama Buddha
dan Sangha-Sangha dari aliran Theravãda dan Mahayana ataupun aliran Theravãda
yang berbaur dengan Mahayana. Kitab suci Agama Buddha (Tipitaka) yang lengkap
hanyalah yang berbahasa Pali (bahasa yang dipergunakan oleh Sang Buddha dan
oleh rakyat jelata suku Magadha).
Kitab Suci Tipitaka dikenal sebagai Kanon Pali
(Pali Canon). Kitab suci Agama Buddha yang paling tua, yang diketahui hingga
sekarang, tertulis dalam Bahasa Pali, yang terbagi dalam tiga kelompok besar
(yang disebut sebagai "pitaka" atau "keranjang") yaitu:
Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka, dan Abhidhamma Pitaka. Karena terdiri dari tiga
kelompok tersebut, maka Kitab Suci Agama Buddha dinamakan Tipitaka (Pali).
Selain yang berbahasa Pali (Tipitaka), ada
juga kitab suci Agama Buddha yang menggunakan Bahasa Sansekerta, yaitu yang
disebut Tripitaka, tetapi di antara kedua versi Pali dan Sansekerta itu pada
dewasa ini hanya Kitab Suci Tipitaka (Pali) yang masih terpelihara secara
lengkap, dan Tipitaka (Pali) / Pali Canon ini pulalah yang merupakan kitab suci
bagi Agama Buddha mazhab Theravãda.
C. Pokok-pokok
Ajaran Agama Buddha
Agama Buddha merupakan agama besar yang kedua,
yang banyak penganutnya di dunia. Ajaran agama Buddha tidak bertitik tolak pada
Tuhan dan hubungannya dengan alam semesta beserta seluruh isinya termasuk
manusia. Tetapi dari keadaan yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari
khususnya tentang tata susila yang dijalankan manusia agar terbatas dari
lingkaran dukha yang selalu mengiringi hidupnya.
Ajaran agama Buddha dapat dirangkum dalam tiga
ajaran pokok, yaitu Buddha, Dhamma dan Sangha. Ajaran tentang Buddha Gautama
sebagai pendiri agama Buddha dan asas rohani yang dapat dicapai oleh setiap
makhluk hidup pada perkembangan.
Ajaran tentang Buddha berkaitan pula dengan
masalah ketuhanan yang menjadi salah satu ciri ajaran semua agama. Ajaran
tentang Damma banyak membicarakan tentang masalah-masalah yang dihadapi manusia
dalam hidupnya baik yang berkaitan dengan ciri manusia itu sendiri maupun
hubungannya dengan apa yang disebut Tuhan dan alam semesta dengan segala
isinya. Ajaran tentang Sangha sebagai pasamuan para bikshu juga berkaitan
dengan umat yang menjadi tempat para bikshu menjalankan dhammanya.
Umat Buddha di seluruh dunia menyatakan
ketaatan dan kesetiaan mereka kepada Buddha, dhamma, Sangha dengan kata dalam
satu rumusan kuno yang sederhana namun menyentuh hati, yang terkenal dengan
nama Tiratana yang berasal dari bahasa Pali yang artinya satu bagian terpenting
dan yang menjadi dasar agama Buddha. Tiratana berasal dari dua kata Ti yang
berarti tiga dan Ratana yang berarti permata arti keseluruhannya adalah tiga
permata mulia, yang maksudnya adalah tiga Perlindungan, rumusan tersebut
berbunyi :
Permata yang pertama adalah Buddha yaitu
seseorang yang mencapai penerapan yang sempurna dengan kemampuan sendiri tanpa
bantuan dari makhluk-makhluk lain. Ia mempunyai kemampuan untuk menguraikan dan
membabarkan penyatuan kepada makhluk-makhluknya. Permata yang kedua adalah
Dhammayaitu ajaran-ajaran yang diberikan dan dibabarkan sang Buddha untuk
mencapai Nibbana. Permata yang ketiga adalah AriyaSanghayaitu persaudaraan para
pengikut sang Buddha yang telah melaksanakan dhamma dengan sempurna dan yang
telah mencapai magga (jalan) dan phala (hasil) dapat juga dikatakan
persaudaraan para pengikut sang Buddha yang telah mencapai tingkatantingkatan
kesucian baik tingkatan pertama (sota panna) orang yang telah mencapai tujuh
kali kelahiran, kedua (saka dagami) orang yang telah mencapai lima kali
kelahiran, ketiga (anagani) orang yang telah mencapai satu kali kelahiran,
maupun yang keempat (arahat) orang yang tidak sama sekali mengalami kelahiran.
Perlindungan adalah suatu yang dituju orang
ketika mereka mengalami penderitaan atau ketika mereka membutuhkan keselamatan
dan perasaan aman.
Aku pergi ... berlindung kepada Buddha, aku
pergi berlindung kepada dhamma, aku pergi berlindung kepada Sangha (untuk yang
kedua kalinya ... untuk yang ketiga kalinya)
Tiga perlindungan tersebut merupakan doa yang
dapat dilaksanakan kapan saja dan di manapun, tetapi dalam dunia Buddha
diyakini bahwa hari yang Paling baik untuk memulainya yaitu dengan mengikat
tiga permata atau tiga perlindungan, dan yang dapat menjadikannya sebagai
penutup hari sebagai umat Buddha sebelum tidur.
Meskipun doa tersebut sangat singkat namun
perlu diingat bahwa kalimat tersebut meliputi seluruh ajaran Buddhis, Buddha
guru agung dan penunjuk jalan kehidupan bagi umat Buddha, dhamma merupakan
ajaran yang diwariskannya kepada umat Buddha sebagai pedoman dalam menempuh
kehidupan ini, sedangkan Sangha atau persaudaraan para bikshu melambangkan
panjang dhamma.
D. Ketuhanan,
Metafisika, dan Nirwana dalam Agama Buddha
1. Ketuhanan dalam
Agama Buddha
Tuhan dalam agama Buddha bukanlah Siddharta Gautama. Buddhisme juga menolak
adanya sosok mahakuasa sebagai pencipta dan menyatakan bahwa alam semesta
diatur oleh lima hukum kosmis (Niyama Dhamma), yakni Utu Niyama, Bija Niyama,
Kamma Niyama, Citta Niyama, dan Dhamma Niyama. Hal ini dipandang oleh banyak
orang sebagai perbedaan utama antara Buddhisme dan agama-agama lain.
Ketuhanan Yang Maha Esa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatang Abhutang
Akatang Asamkhatang yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak
Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak".Dalam hal ini, Ketuhanan
Yang Maha Esa dalam Agama Buddha adalah suatu yang "tanpa Aku"
(anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan (tidak memiliki kepribadian) dan
tidak dapat diuraikan seperti apa pun. Tetapi dengan adanya "Yang
Mutlak", yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi
(samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan
cara bermeditasi.
Umat Buddha menerima keberadaan makhluk hidup di alam yang lebih tinggi,
yang dikenal sebagai dewa, tetapi mereka seperti manusia, yang dikatakan
menderita di samsara belum tentu lebih bijaksana daripada makhluk lainnya.
Bahkan Buddha sering disebutkan sebagai guru para dewa dan lebih unggul dari
mereka, meskipun dewa seperti semua makhluk hidup lainnya mungkin menjadi
Bodhisattva tercerahkan dan mencapai kesucian.
2. Metafisika atau
Filsafat dalam Agama Buddha
Filsafat Buddha mengacu kepada pandangan atau penerapan ajaran Buddha
terhadap nilai-nilai kehidupan, eksistensi, pengetahuan, akal budi, materi,
serta moralitas manusia. Semasa hidupnya, Buddha Gautama secara personal tidak
pernah mendokumentasikan apa yang ia ajarkan dalam bentuk tulisan, sehingga
filsafat Buddha dibangun berdasarkan rekonstruksi yang dilakukan terhadap
ajaran-ajaran Buddha yang berkembang dalam aliran-aliran Buddha pasca kematian
beliau. Pokok kajian filsafat Buddha pada awalnya ditekankan pada dukkha yang
menjadi awal permasalahan dan eksistensi kehidupan di dunia ini. Pokok kajian
tersebut dirangkum dalam empat kebenaran mulia, termasuk di dalamnya jalan
pembebasan dari dukkha tersebut untuk mencapai nibbana. Seiring berjalannya
waktu, kajian filsafat Buddha kemudian mencakup kajian filsafat pada umumnya
seperti etika, epistemologi, fenomenologi, logika, ontologi, serta logika;
termasuk nantinya isu-isu kontemporer seperti etika lingkungan, biomedis,
perang dan perdamaian, hak asasi manusia hingga kajian gender.
Seperti halnya ajaran Buddha yang berkembang menjadi dua mazhab yang
dikenal secara umum, Theravada dan Mahayana, kajian terhadap filsafat Buddha
juga terbagi ke dalam beberapa aliran Buddhis yang berkaitan dengan dua mazhab
tersebut. Aliran-aliran ini memiliki persepsi yang berbeda terhadap beberapa
poin dalam ajaran Buddha, yang kemudian menjadi kajian ilmu filsafat klasik
maupun kontemporer.
Hal-hal tertentu dari filsafat Buddha sering menjadi subjek perselisihan
antara aliran-aliran Buddhisme yang berbeda. Elaborasi dan perselisihan ini
memunculkan berbagai aliran dalam Buddhisme awal dari Abhidharma, dan tradisi
dan aliran Mahayana dari prajnaparamita, Madhyamaka, sifat kebuddhaan, dan
Yogacara.
3. Nirwana dalam
Agama Buddha
Nirwana merupakan konsep utama dalam agama Buddha dan merupakan tujuan
akhir yang hendak dicapai semua umat Buddha. Menurut ajaran Buddha, nirwana
merupakan sesuatu yang tidak dapat dijelaskan tanpa mengalaminya langsung. Nirwana
akan dicapai oleh orang-orang yang telah mencapai pencerahan atau berada di
atas level yang bersifat keduniawian. Namun demikian, sejumlah filsuf dan
praktisi Buddha tetap berusaha menjelaskan konsep nirwana meskipun perdebatan
tetap terjadi akibat perbedaan interpretasi. Ketika mencapai nirwana, hal ini
berarti bahwa seseorang telah terbebas dari samsara atau siklus reinkarnasi dan
penderitaan yang mencirikan semua kehidupan di bumi. Selain menjadi bebas dari
penderitaan, individu tersebut juga telah melampaui obsesi dan nafsu yang
bersifat duniawi. Saat mencapai nirwana, seseorang akan memiliki tingkat
kebijaksanaan dan rasa kasih sayang tinggi serta mencapai keadaan damai yang
sempurna.
Bagi umat Buddha, nirwana adalah level tertinggi yang bisa dicapai
seseorang. Bisa memerlukan waktu yang sangat lama sebelum seseorang mencapai
level tersebut. Ajaran Buddha membedakan antara keadaan nirwana yang dicapai
selama seseorang masih hidup dan status yang dicapai saat seseorang telah
meninggal. Sedikit orang seperti Buddha, dipercaya mencapai nirwana selama
hidup mereka melalui asketisme yang intens, doa, dan keyakinan yang kuat. Orang
seperti ini akan diganjar dengan “nirwana akhir” yang akan diperoleh setelah
kematian. Ketika mencapai nirwana saat masih hidup, kondisi tersebut seharusnya
mudah untuk diidentifikasi karena pencapaian rohani luar biasa ini akan membuat
seseorang tampak menonjol. Istilah “nirwana” secara harfiah berarti “untuk
memadamkan” yang berarti padamnya keinginan duniawi dan terbebasnya dari
samsara. Penganut Buddha berusaha mencapai nirwana dengan mengikuti Delapan
Jalan dan berbagai ajaran lain. Mereka juga percaya bahwa seseorang harus
mencapai pencerahan untuk mencapai nirwana, meskipun pencerahan bukan merupakan
tiket otomatis ke nirwana. Buddhisme dipraktikkan dalam sejumlah sekte yang
berbeda sehingga tiap aliran juga memiliki perbedaan konsep tentang nirwana. Nirwana
dalam konsep Hindu juga berbeda dengan nirwana Buddha. Meskipun mungkin
memiliki kesamaan konsep, perbedaan terletak pada cara pencapaian dan hasil
akhir.
Agama
Buddha biasanya dibagi menjadi 2 atau 3 aliran utama. Theravada adalah aliran
yang tertua dan kebanyakan bisa ditemukan di Asia Tenggara. Mahayana adalah
aliran agama Buddha yang dianut orang-orang Cina, Jepang, dan negara Asia Timur
lainnya. Sedangkan Vajrayana umumnya dihubungkan dengan Tibet meskipun banyak
orang memberikan argumen bahwa Vajrayana hanyalah cabang dari salah satu aliran
di atas.
1. Theravada
Theravada (Pāli: थेरवाद theravāda; Sansekerta: स्थविरवाद sthaviravāda); secara harafiah berarti,
“Ajaran Sesepuh” atau “Pengajaran Dahulu”, merupakan bentuk Buddhisme yang
paling tua. Penganutnya kebanyakan berasal dari negara-negara Asia Tenggara
seperti Sri Lanka, Kamboja, Laos, Myanmar, dan Thailand.
Tidak seperti bentuk-bentuk Buddhisme lainnya,
Theravada berfokus seluruhnya pada pembebasan diri dengan cara menyingkirkan
semua kekotoran batin.
2. Mahayana
Mahayana (berasal dari bahasa Sansekerta: महायान, mahāyāna yang secara harafiah berarti
‘Kendaraan Besar’) adalah satu dari dua aliran utama Agama Buddha yang
merupakan istilah pembagian filosofi dan ajaran Sang Buddha.
Sebagai aliran naungan, Mahayana mengandung 2
aliran Buddhisme yang paling populer, Buddha Tanah Murni (Amidisme) dan
Buddhisme Zen. Buddha Tanah Murni cenderung tidak berfokus pada Buddha Gautama,
tapi kepada Buddha Amitabha dan meyakini bahwa mereka yang telah mencapai
penerangan akan terlahir kembali di Tanah Murni bersama Amitabha. Sedangkan
Buddhisme Zen terkadang sulit untuk didefinisikan, tapi aliran ini kebanyakan
berfokus pada penggunaan meditasi sebagai bentuk kesadaran dan pencarian jati
diri yang dapat menuntun praktisinya mencapai penerangan.
3. Vajrayana
Vajrayana adalah suatu ajaran Buddha yang di
Indonesia lebih sering dikenal dengan nama Tantra atau Tantrayana. Vajrayana
kebanyakan dipraktekkan di negara-negara Himalaya, khususnya Nepal, Bhutan,
Mongolia, dan yang paling terkenal, di Tibet.
Ada beberapa hal yang membedakan Vajrayana
dengan Mahayana maupun Theravada. Mahayana dan Theravada seringkali berfokus
untuk meningkatkan sifat-sifat positif manusia dan mengurangi yang negatif.
Sedangkan Vajrayana berfokus pada mengajarkan penganut bagaimana menjadi Buddha
dalam satu kehidupan. Biasanya melibatkan praktik-praktik seperti membaca
mantra, menggunakan mandalas, memvisualisasikan para dewa dan Buddha, serta
memanfaatkan mudras.
F. Konsep Ibadat
dalam Agama Buddha
Agama Buddha juga mengajarkan tata cara
peribadatan, yang biasanya disebut sebagai puja. Pelajaran ini merupakan ajaran
dasar dari agama Buddha karena akan mengajarkan kepada umat tentang tata cara melaksanakan
ibadah.
Istilah ‘puja’ berarti menghormat atau memuja,
dan mengacu pada upacara sebagai sarana untuk menguatkan dan menuangkan
keyakinan serta mengingatkan kita sehari-hari akan janji kita pada Tiratana –
Tiga Permata; Buddha, Dhamma serta Sangha. Ada pendapat yang menganggap ‘puja’
adalah ‘suatu upacara ritual tak berarti’, berdasar pengertian bahwa dalam
agama Buddha, tidak diakui adanya makhluk-agung atau dewa-agung yang padanya
kita harus bermohon dan dengan demikian upacara adalah mubazir.
Pandangan diatas jelas salah.
Pertama, tidak ada upacara yang ‘tak punya
arti’ bila kita berusaha mencari makna artinya.
kedua, keikutsertaan dalam upacara tidak perlu
bertentangan dengan keberadaan kita sebagai manusia yang kritis. Upacara ritual
memang ganjil bila dikaitkan dengan ilmu gaib, tapi upacara agama Buddha
bukanlah hal yang demikian. Pelaksanaan ‘puja’ mempunyai nilai yang tinggi
karena mampu menguatkan keyakinan dan menanamkan pengertian yang khusus dalam
batin kita.
Pemujaan (pelaksana Puja) bukan keharusan
dalam pelaksanaan keagamaan Buddha, tapi karena sebagian besar orang dapat
melihat dampak positif-nya, maka kita akan mempelajari arti dan pelaksanaannya
secara terinci. Ada bermacam-macam cara pemujaan tergantung budaya dimana tata
pemujaan itu berkembang, ada yang sederhana dan anggun, ada yang rumit dan
ramai. Mari kita teliti Nava Puja. Istilah ‘nava‘ berarti ‘baru’ dan juga
berarti ‘sembilan’, karena Nava Puja adalah penyesuaian moderen dari Puja
Buddha yang kuno di Sri Lanka, dan karena Nava Puja terdiri atas sembilan
bagian. Seperti ‘puja’ yang lain, maka Nava Puja dapat dilaksanakan dalam
bahasa sehari-hari kita ataupun dalam bahasa Pali.
Pemujaan paling tepat dilakukan di depan
meja-sembahyang (Inggris: shrine) di vihara ataupun di rumah. Ada umat yang
salah mengartikan dengan menyamakan serta menyebut meja-sembahyang dirumahnya
sebagai ‘altar’. Pada kenyataannya secara harfiah, altar berarti tempat
pelaksanaan korban, yang tentunya tidaklah tepat untuk menggambarkan
meja-sembahyang agama Buddha. Meja-sembahyang terdiri dari suatu meja atau
panggung yang agak ditinggikan, yang diatasnya diletakkan patung Buddha (Buddha
rupa) dan obyek-obyek lain yang digunakan pada pemujaan tersebut.
Meja-sembahyang secara estetis hendaknya terawat,
menyenangkan dan senantiasa rapih. Pada dasarnya, kita hendaknya merawat
meja-sembahyang seperti hati kita – bersih, indah dan rapih. Meja-sembahyang
hendaknya dibersihkan setiap hari dari debu, abu dupa dan guguran bunga.
Meja-sembahyang hendaknya indah, ditempati peralatan sembahyang terbaik,
diletakkan simetris agar baik dipandang mata. Lebih jauh, meja-sembahyang
hendaknya tidak menjadi kacau karena adanya foto-foto para bhikkhu, guru
kebatinan, patung dewa-dewa Tao ataupun segala macam obyek yang tak ada
hubungannya dengan puja.
G. Doa dan
Meditasi dalam Agama Buddha
Meditasi (bhavana) berarti pengembangan batin.
Meditasi ada dua macam, pertama yaitu Samatha Bavhana yang tujuannya untuk
mencapai ketenangan batin, yang kedua adalah Vipassana Bhavana yang bertujuan
untuk mencapai pandangan terang. Orang yang bermeditasi sering mendapat
gangguan atau rintangan yang berupa sepuluh palibodha, lima nivarana, dan
sepuluh vipassanupakilesa. Oleh karena itu perlu banyak kesabaran, semangat,
dan tekad kuat dalam melakukan meditasi. Tujuan terakhir meditasi adalah sama
dengan tujuan akhir dari Buddha Dharma, yaitu untuk mencapai Nirwana, dan
menghapuskan, dan diluar bentuk-bentuk pengalaman manusia biasa.
Ada lima mantra untuk bermeditasi yang telah
digunakan selama ribuan tahun. Mereka adalah sebagai berikut:
1.
OM
Ini adalah mantra untuk bermeditasi yang lebih
universal. Bahkan, untuk arus filosofis dan spiritual ini mewakili suara alam
semesta. Ini adalah asal dari segalanya, getaran primordial yang pada
gilirannya terdiri dari semua suara lainnya.
Lebih dari itu, para yogi sejati menjelaskan
bahwa ketika alam semesta itu sendiri diciptakan, OM adalah suara yang
mendamaikan awal dari semua yang kita lihat, rasakan dan selubungi.
Di sisi lain, ketika kita mengeksekusi suara
ini dihasilkan getaran yang kuat untuk menyelaraskan kesadaran kita dengan
segala sesuatu yang mengelilingi kita, dengan semua yang ada, adalah dan akan
...
2.
OM AH HUM
Dengan mengucapkan mantra ini, seseorang
membersihkan tempat di mana orang akan melakukan meditasi. Selain itu, suaranya
membantu meningkatkan konsentrasi.
Mantra ini diterjemahkan sebagai "Aku
adalah itu" dan tanpa keraguan lagu yang sempurna untuk memulai dalam
latihan ini.
Untuk melaksanakannya, kita hanya harus mulai
dengan mengucapkan kata Om, lalu buang napas lalu bayangkan bunyi
"HUM".
3.
OM TARE TUTTARE
Mantra ini membantu memusatkan kekuatan batin.
Ini digunakan untuk menghilangkan hambatan internal. Itu juga menumbuhkan
keberanian dan kepercayaan diri.
Juga, menarik untuk mengetahui bahwa
dianjurkan untuk berlatih dan menyanyikan mantra ini setiap kali kita melewati
masa ketakutan atau kecemasan. Itu tidak hanya akan membantu kita untuk
melepaskan ketakutan itu dan untuk bergabung. Juga,, mendorong kreativitas dan
akan memungkinkan kita untuk memikirkan kemungkinan solusi dan alternatif.
4.
OM NAMAH SHIVAYA
Ini adalah mantra yang berasal dari umat
Hindu. Diucapkan untuk memanggil kesejahteraan dan kebahagiaan. Ini juga
merupakan cara untuk memanggil Siwa, untuk mengakses alam semesta spiritual di
mana kekuatan yoga yang paling kuat dapat mendukung pertumbuhan pribadi dan
peningkatan mental kita.
Om Namah Shivayah adalah lagu kekuatan karena
itu juga mengandung mantra, Om, yang seperti kita ketahui, getaran suara dari
awal penciptaan. Istilahnya namah , berarti dalam bahasa Sansekerta
"salam", dan Shivayah, yang berarti Dewa Siwa. Karena itu, ini
merupakan salam dan permohonan untuk bergabung dengannya secara harmonis.
5.
OM MANI PADME HUM
Ini adalah salah satu mantra paling terkenal
untuk bermeditasi dalam aliran agama Buddha. Ini memohon kebijaksanaan
esensial, penyatuan dengan alam semesta dan juga kasih sayang Buddha sendiri.
Menurut para guru agama Buddha Tibet, sebagian
besar ajaran Buddha terkandung dalam mantra ini, oleh karena itu diulangi
begitu sering, maka itu adalah salah satu yang paling berulang untuk memurnikan
kita, mencapai kebijaksanaan, kebaikan dan penyatuan mutlak dengan alam
semesta.
Sekarang, hal terpenting dari mantra ini
adalah suaranya. Umat Buddha bersikeras bahwa seseorang tidak boleh terlalu
memikirkan apa yang mereka maksudkan. Esensi dari segala sesuatu ada dalam
fonem dan efeknya terhadap kesadaran.
Tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dalam
penyebaran Agama Buddha adalah para guru spiritual, aktivis, penulis, dan
pemikir yang mengubah dunia. Ada tiga kriteria yang digunakan untuk merangkum
daftar tersebut. Kriteria tersebut adalah:
1. Tokoh itu harus
masih hidup pada 1 Januari 2019.
2. Tokoh tersebut
harus memberikan kontribusi yang unik dan bersifat spiritual dalam skala
global.
3. Tokoh tersebut
sering dicari melalui Google, muncul di Nielsen Data, memiliki halaman
Wikipedia, dan secara aktif dibicarakan di seluruh Internet.
“Dengan memperhitungkan berapa kali seseorang
dicari di Google atau berapa kali profil Wikipedia mereka dilihat, daftar
tersebut memperoleh parameter yang sangat demokratis dan transparan,” kata
majalah Watkins pada pertengahan bulan Februari lalu. “Selain itu, kami sangat
selektif dalam membuat daftar ini dan melakukan yang terbaik untuk menghapus
kandidat yang menyebarkan pesan yang penuh kebencian atau tidak toleran. Pada
akhirnya, daftar ini dimaksudkan untuk merayakan pengaruh positif para guru
spiritual saat ini.”
Para tokoh di bawah ini termasuk dalam tokoh
Buddhis karena dapat dipastikan dengan biografi yang jelas atas dedikasi
hidupnya dalam Agama Buddha.
1.
Y.M. Dalai Lama XIV
2.
Y.M. Thich Nhat Hanh
3.
Robert Thurman
4.
Y.M. Pema Chödrön
5.
Y.M. Ajahn Brahm
6.
Jack Kornfield
7.
Tara Brach
8.
Sharon Salzberg.
BAB III
PENUTUP
Agama ini muncul dari perpaduan berbagai
kebudayaan seperti kebudayaan helinistik (Yunani), kebudayaan Asia Tengah, Asia
Timur, dan Asia Tenggara. Agama ini juga muncul karena adanya reaksi terhadap
hadirnya agama Hindu yang muncul lebih awal. Hingga kini, agama Buddha sudah
menjadi agama mayoritas di beberapa negara seperti Thailand, Kamboja,
Singapura, Myanmar, dan Taiwan. kitab Suci Agama Buddha adalah Tipitaka.
Demikian juga halnya di Indonesia. Hal itu telah ditetapkan dalam kongres umat
Buddha Indonesia di Yogyakarta tahun 1979.
Ajaran agama Buddha dapat dirangkum dalam tiga
ajaran pokok, yaitu Buddha, Dhamma dan Sangha. Ajaran tentang Buddha Gautama
sebagai pendiri agama Buddha dan asas rohani yang dapat dicapai oleh setiap
makhluk hidup pada perkembangan. Ketuhanan Yang Maha Esa dalam bahasa Pali
adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya "Suatu Yang
Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang
Mutlak".Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Agama Buddha adalah
suatu yang "tanpa Aku" (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan (tidak
memiliki kepribadian) dan tidak dapat diuraikan seperti apa pun. Tetapi dengan
adanya "Yang Mutlak", yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia
yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan
(samsara) dengan cara bermeditasi.Filsafat Buddha mengacu kepada pandangan atau
penerapan ajaran Buddha terhadap nilai-nilai kehidupan, eksistensi,
pengetahuan, akal budi, materi, serta moralitas manusia. Nirwana merupakan
konsep utama dalam agama Buddha dan merupakan tujuan akhir yang hendak dicapai
semua umat Buddha. Menurut ajaran Buddha, nirwana merupakan sesuatu yang tidak
dapat dijelaskan tanpa mengalaminya langsung.
Agama Buddha biasanya dibagi menjadi 2 atau 3
aliran utama yaitu, Theravada, Mahayana, Vajrayana. Tujuan terakhir meditasi
adalah sama dengan tujuan akhir dari Buddha Dharma, yaitu untuk mencapai
Nirwana, dan menghapuskan, dan diluar bentuk-bentuk pengalaman manusia biasa
Sebagai manusia yang beragama serta hidup
dalam situasi yang multi agama, kita harus tahu akan bagaimana perbadaan agama
serta sejarah pada tiap-tiap agama. Dengan hal tersebut kita akan tambah
keimanan dan juga akan kaya tentang pengetahuan tentang agama yang ada di
sekitar kita. Dengan hal tersebut tentu kita akan bertambah keimanan dan juga
berharap berusaha untuk ikut andil atau pelaku sejarah perkembangan agama.
Amazine.co. (2006). Apakah Nirwana dalam Ajaran Buddha?
Fakta & Informasi Lain. Dipetik Maret 16, 2021, dari
https://www.amazine.co/24932/apakah-nirwana-dalam-ajaran-buddha-fakta-informasi-lain/#:~:text=Nirwana%20merupakan%20konsep%20utama%20dalam,dapat%20dijelaskan%20tanpa%20mengalaminya%20langsung.
Anastasie, S. (2019 ). 5 mantra untuk meditasi.
Dipetik Maret 11, 2021, dari
https://id.sainte-anastasie.org/articles/bienestar/5-mantras-para-meditar.html
Bhagavant.com. (2019). 8 Tokoh Buddhis Masuk dalam 100
Tokoh Spiritual Paling Berpengaruh Tahun 2019. Dipetik Maret 16, 2021, dari
https://berita.bhagavant.com/2019/03/09/8-tokoh-buddhis-masuk-dalam-100-tokoh-spiritual-paling-berpengaruh-tahun-2019.html
bhayangkari. (2019). Asal usul Agama Buddha.
Dipetik Maret 10, 2021, dari
http://bhayangkari.or.id/artikel/asal-usul-agama-buddha/#:~:text=Dari%20penelitian%20tersebut%20diketahui%20bahwa,Asia%20Timur%2C%20dan%20Asia%20Tenggara.
Kamilah, M. (2013, Mei 30). Meditasi dalam Agama
Buddha. Dipetik Maret 11, 2021, dari
http://vitriastuti12.blogspot.com/2013/05/meditasi-dalam-agama-buddha.html
Melisa. (2019). PERBEDAAN 3 ALIRAN DALAM AGAMA BUDDHA.
Dipetik Maret 11, 2021, dari
https://student-activity.binus.ac.id/kmbd/2019/08/perbedaan-3-aliran-dalam-agama-buddha/
Mushlihin, S. M. (2012). Ajaran Pokok Agama Budha.
Dipetik Maret 10, 2021, dari https://www.referensimakalah.com/2012/12/ajaran-pokok-agama-budha.html
tanhadi. (2011). Sejarah Tipitaka (Kitab Suci Agama
Buddha). Dipetik Maret 10, 2021, dari
http://tanhadi.blogspot.com/2011/04/sejarah-tipitaka-kitab-suci-agama.html
Wikipedia. (2021). Filsafat Buddha. Dipetik Maret
16, 2021, dari https://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_Buddha
wikipedia. (2021). Tuhan dalam agama Buddha.
Dipetik Maret 16, 2021, dari
https://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan_dalam_agama_Buddha
WordPress.com. (2012). Ibadah dalam agama budha.
Dipetik Maret 11, 2021, dari
https://yuliarrifadah.wordpress.com/photos/michael-and-his-fans/
Comments
Post a Comment